google4ca8c8f411f3a424.html
Lensa-balikpapan.com
NasionalSKK Migas Kalsul

KKKS Berharap Insentif Untuk Genjot Produksi Migas

lensa-balikpapan.com/- Skk Migas — Produksi migas di wilayah Kalimantan Timur dihrapakan terus digenjot produksinya. Sumur-sumur minyak yang tersebar di Kaltim yang dioperasikan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) telah banyak memasuki masa tua setelah berpuluh-puluh tahun dikuras hingga hari ini.

Hal ini membuat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong setiap perusahaan baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun investor luar untuk berinvestasi dengan menggunakan teknologi terbaru. Sehingga mendapatkan hasil lebih maksimal dalam menggarap sumur-sumur migas yang sudah mature tersebut.

Persiapan Tinjau Lapangan KKKS

Pada saat kunjungan kerjanya, Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman ke wilayah kerja Pertamina Hulu Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dan Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) dirinya menyempatkan melihat secara langsung program kerja yang saat ini tengah dilakukan. Selain melihat ke lokasi Fatar Yani, menyempatkan berdiskusi dengan para manajemen PHKT dan PHSS terkait upayanya dalam mempertahankan kinerja operasi yang optimal.

Dalam kunjungan kerja tersebut Fatar Yani Abdurrahman didampingi oleh sejumlah manajemen SKK Migas dari Jakarta. Turut hadir dari SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi yaitu Kepala Perwakilan Azhari Idris, Senior Manajer Humas Wisnu Wardhana dan Senior Manajer Operasi Roy Widhiarta.

Diakui Fatar Yani, para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Kaltim saat ini mengharapkan sejumlah kemudahan dan keringanan dari negara dalam upaya mencari, serta memproduksikan minyak dan gas bumi atau migas saat ini.

Fatar menuturkan, insentif yang diinginkan adalah keringanan pajak atau mengurangi jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan untuk KKKS bagi hasil. Selain itu, KKKS juga meminta penambahan bagian dari bagi hasil minyak atau gas, serta ada kredit investasi sebagai tambahan modal bagi operator.

Menurutnya, para kontraktor akan kesulitan melakukan pengembangan lapangan migas yang dikelola tanpa insentif, sedangkan mereka dituntut untuk terus meningkatkan produksi.

“Tanpa insentif, tidak akan dikerjakan pengeboran di lokasi itu, karena hitung-hitungan bisnisnya kontraktor rugi atau pas-pasan. Dengan insentif, maka pekerjaan itu akan menarik bagi mereka” ujarnya.

Apalagi katanya, wilayah kerja migas di Kalimantan Timur rata-rata sudah berusia 30–40 tahun, sehingga memerlukan berbagai penanganan khusus agar minyak dan gasnya bisa dipompa keluar untuk diproduksikan. Sedangkan untuk memproduksi migas disumur-sumur yang sudah tua membutuhkan penanganan khusus dibanding sumur baru.

Para KKKS pun menyiasati hal itu dengan terus menambah sumur produksi untuk mendapatkan minyak dan gas lebih banyak.

Dia juga menjelaskan, kebijakan insentif saat ini semakin mendesak untuk dilakukan, karena banyak ditemukan cadangan-cadangan minyak baru yang berada dilaut dalam. Pengembangannya membutuhkan investasi yang besar.

“Insentif diperlukan agar migas yang ada di lapangan-lapangan itu bisa diproduksikan secara ekonomis,” jelasnya.

Yang menjadi hal penting untuk Kaltim, jika sampai KKKS tidak melakukan kegiatan pengeboran dan produksi migas akan terus menurun. Maka dampaknya pada perusahaan PT Badak LNG di Bontang tidak akan bisa beropersai. Dengan tidak laginya beroperasi perusahaan tersebut, akan terjadi kurangnya kegiatan ekonomi di Bontang. Lapangan pekerjaan akan berkurang daerah akan kehilangan pemasukan dari dana bagi hasilnya.

Sumber : Skk Migas Kalsul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *