Antrean BBM Balikpapan Berminggu-minggu, Pemerintah Masih Saling Menunggu?
Antrean BBM Balikpapan Berminggu-minggu, Pemerintah Masih Saling Menunggu?
Hery Sunaryo, SH.,MH
Pemerhati Kebijakan Publik Kota Balikpapan Akhir nya Angkat Bicara di Media .
lensa-balikpapan.com –BALIKPAPAN — Antrean BBM di Kota Balikpapan sudah bukan lagi pemandangan sesaat. Berminggu-minggu masyarakat harus berhadapan dengan antrean panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan masyarakat harus menunggu?
Pemberitaan terbaru menyebut DPRD Balikpapan telah meminta tambahan kuota Pertalite dan Biosolar serta penambahan SPBU penyalur. Namun ironisnya, pengajuan penambahan SPBU Biosolar disebut masih terkendala karena Pemkot Balikpapan belum menyampaikan surat kepada BPH Migas.
Kalau benar demikian, mengapa harus menunggu sampai persoalan semakin parah?
Masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak rapat. Masyarakat membutuhkan BBM tersedia dan antrean segera terurai.
Jangan sampai pemerintah daerah menunggu BPH Migas, BPH Migas menunggu pengajuan, DPRD menunggu realisasi, sementara masyarakat terus menunggu di dalam antrean.
Ini bukan lagi soal siapa yang harus menunggu. Ini soal siapa yang harus segera bergerak.
Tambahan kuota memang penting. Penambahan SPBU juga diperlukan. Tetapi pemerintah harus memastikan seluruh persoalan ditangani secara bersamaan, pasokan, kuota, distribusi, jumlah SPBU, hingga pengawasan penyaluran BBM bersubsidi.
Yang juga patut dipertanyakan adalah keterbukaan data.
Masyarakat berhak tahu berapa kebutuhan BBM Balikpapan, berapa kuotanya, berapa realisasi penyalurannya, dan sebenarnya apa penyebab antrean panjang yang terjadi berminggu-minggu.
Jangan hanya mengatakan “sedang berproses”.
Proses tanpa target adalah ketidakpastian.
Pemkot Balikpapan harus segera menyelesaikan pengajuan penambahan SPBU. DPRD harus mengawal sampai ada hasil nyata. BPH Migas dan Pertamina juga harus mencari langkah percepatan yang memungkinkan agar masyarakat tidak terus menjadi korban dari persoalan distribusi.
Sebab ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa banyak pertemuan digelar.
Ukuran keberhasilannya adalah ketika masyarakat tidak lagi menghabiskan berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Balikpapan membutuhkan tindakan, bukan sekadar janji dan wacana.
Antrean sudah berminggu-minggu. Jangan sampai masyarakat dipaksa menunggu berminggu-minggu lagi hanya karena pemerintah masih sibuk saling menunggu.
editor : lensa-balikpapan.com

