Nabi Muhammad SAW: Sosok yang Sangat Kenal Dekat dengan Allah, Namun Paling Banyak Doanya
Oleh Hery Sunaryo, Ketua Umum, DKM Masjid Nur Hidayah Pandan Sari Balikpapan
lensa-balikpapan.com- Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang mencapai puncak makrifat (pengenalan) dan mahabbah (cinta) kepada Allah SWT. Para ulama memberikan sudut pandang yang mendalam tentang mengapa beliau, meskipun paling dekat dan paling mengenal Allah, tetapi menjadi hamba yang paling banyak berdoa kepada Allah SWT.
Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, mengajarkan bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah tidak boleh didasarkan pada perhitungan atau timbal balik. Doa dan ibadah sejati bukanlah upaya untuk mendapatkan sesuatu, melainkan manifestasi dari kerendahan hati dan pengakuan atas kehambaan.
Imam Ibnu Athaillah memandang Nabi Muhammad SAW sebagai teladan sempurna dalam sikap ini. Beliau berdoa karena ia melihat bahwa doa adalah esensi dari penghambaan. Semakin seseorang merasa dekat dengan Allah SWT, semakin ia merasa kecil dan fakir di hadapan-Nya.
Sementara itu, Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, memberikan penjelasan tentang hikmah di balik doa Nabi Muhammad SAW. Imam Al-Ghazali memandang doa dari dua aspek: doa sebagai ibadah dan doa sebagai ungkapan rasa syukur.
Nabi Muhammad SAW berdoa karena beliau memahami bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang berdoa. Doa adalah cara terbaik untuk menunjukkan cinta dan kerinduan kepada Sang Pencipta. Doa juga merupakan ungkapan syukur yang tiada henti atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan.
Dalam pandangan banyak ulama, praktik doa Nabi Muhammad SAW yang sangat banyak, meski beliau adalah sosok yang paling dekat dan paling mengenal Allah, bukanlah sebuah hal yang kontradiksi, namun sebaliknya, hal itu adalah bukti dari makrifat dan ubudiyah tertinggi seorang hamba yang mulia.
Nabi Muhammad SAW berdoa karena beliau sangat bersyukur dan menyadari kefakirannya sebagai seorang hamba di hadapan keagungan Allah SWT. Doa beliau adalah manifestasi dari cinta, syukur, dan penghambaan total, menjadi teladan abadi bagi kita semua untuk senantiasa merendahkan diri dan terhubung dengan Allah SWT di setiap waktu dan keadaan.(HR)

