Apa Itu Kepuhunan? Simak Artikel Berikut Ini, Ditulis Oleh Immamul Dzakwan
lensa-balikpapan.com,- Malam itu, udara cukup dingin karena di luar sedang hujan, sejak petang. Udara dingin menyusup melalui jendela dan ventilasi udara, membuat suasana semakin sunyi. Umam duduk di meja belajarnya, menatap buku-buku Pelajaran yang harus ia kuasai untuk ujian besok senin. Sesekali ia mengusap lengan, karena menggigil. Akhirnya Umam beranjak dari meja belajar untuk menutup jendela kamar agar angin malam tak lagi masuk, kembali tenggelam dalam belajarnya.
Dari luar kamar, terdengar suara pintu rumah berdecit saat dibuka krrreeeeiikkkk…. seseorang masuk ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum, Bunda pulang,” ucap Ibunda Umam yang baru pulang selepas menghadiri acara, sambil melepas jas hujannya.“Wa’alaikumsalam,” ucap Umam menjawab salam Ibundanya yang baru pulang.“Umam, lagi belajarkah?” tanya Ibundanya, karena melihat keadaan rumah yang cukup sepi. “Iya Bun, lagi belajar buat besok,” Sahut Umam.“Oalah, pantas sepi. Kamu mau tapaikah? Bunda beli dua tadi di pinggir jalan,” ucap Ibunda menawarkan makanan yang baru ia beli dari luar. “Mau Bun,” sahut Umam singkat yang ada di kamar. “Ya sudah, Bunda masukan kulkas ya, jangan lupa dimakan,” jawab Ibunda.“Iya Bun, nanti aku makan,” sahut Umam lagi.Setelah ditawarkan tapai oleh Ibundanya, Umam lanjut belajar.Percakapan itu berlalu begitu saja. Umam kembali fokus pada buku-buku Pelajaran, kembaku tenggelam dalam rumus dan catatan hingga tanpa terasa dua jam berlalu. Perutnya mulai berontak. Rasa lapar menyeruak tiba-tiba, seolah menuntut perhatian.Umam beranjak dari meja belajar dan menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, Umam mendapati ada sisa telor dadar dan sayur bening tadi sore di atas meja makan. Karena perut sudah lapar tanpa pikir Panjang, Umam langsung mengambil piring dan nasi, serta lauk pauk yang ada di atas meja makan, lalu memakannya dengan lahap.Setelah selesai makan, Umam langsung kembali ke kamar lagi tanpa memikirkan tapai yang ditawarkan Ibundanya tadi.Malam semakin larut. Di dalam kamar, Umam menyiapkan alat tulis dan bahan catatan yang akan ia baca ulang besok pagi sebelum ujian. Setelah semua sudah selesai, Umam baru teringat bahwa ia belum salat isya. Setelah berwudhu, ia salat isya dengan tubuh yang sudah Lelah. Rasa kantuk menyerangnya dengan cepat, dan Umam memutuskan tidur lebih awal. Sebab tak ingin terlambat jika bangun terlalu kesiangan.Pagi hari pun tiba dengan kejutan. Ketika membuka mata, jam di ponselnya menunjukkan pukul 06.50 WITA.Setelah melihat jam, mata Umam langsung segar bagaikan disambar petir. Seketika rasa kantuk lenyap. Tanpa memikirkan apapun Umam langsung bergegas ke kamar mandi Mandi secepat kilat, lalu bersiap-siap menuju sekolah. Tanpa memikirkan sarapan, Umam langsung turun tangga dan keluar dari rumahnya menuju ke sekolah, mengingat rumahnya yang cukup jauh dari sekolah.“Bun, aku pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” ucap Umam sambil turun tangga dengan terburu-buru.“Wa’alaikumsalam, iya hati-hati Jangan ngebut,” jawab sang Ibunda.“Iyaa,” sahut Umam.Umam langsung memakai helm dan menyalakan motor. Tanpa memanaskan motornya terlebih dahulu, Umam langsung melaju ke sekolah. Hujan semalam meninggalkan aspal yang licin. Dalam perjalanan menuju sekolah, perasaan Umam cukup gelisah karena dirinya yang telat bangun.“Padahal tadi malam sudah tidur cepat lhoo, kok masih bisa kesiangan sih? Mana macet lagi ni jalanan, haduhhh!!” gumam Umam kesal pada dirinya sendiri.Umam melanjutkan perjalanannya lagi dengan perasaan yang masih sama. Pandangannya hanya lurus kedepan, berharap cepat sampai sekolah. Ketika jalanan turun gunung, Umam tidak melihat kalau dari kejauhan ada seekor kucing yang hendak menyebrang. Ketika kucing tersebut menyeberang, Umam sontak kaget “eeeettt!!”. Brruuuuakkkk…….
Refleks, Umam mengerem mendadak dan membanting setir ke kiri, menghindari kucing tersebut. Umam mengalami kecelakaan tunggal, ia terpeleset dari motor. Pakaian sekolahnya sebagian sobek, terdapat luka disetiap bagian yang sobek, dan motornya sedikit berjarak dengan posisinya yang jatuh saat itu. Melihat kejadian tersebut sebagian kendaraan berhenti, satu persatu orang turun dari kendaraannya masing-masing dan membantu Umam.“Eeehhh, Kamu kenapa?”“Kamu nggak apa-apa?”“Kok bisa jatuh?”“Ada yang sakit nggak?” tanya mereka yang khawatir setelah melihat kejadian tersebut.“Aman Pak, aman. Nggak apa-apa kok, nggak ada yang sakit,” jawab Umam dengan lirih menahan rasa kesakitan yang dirasakan.Melihat kondisinya sendiri dengan pakaian yang sobek, luka-luka yang diakibatkan kecelakaan, serta rasa sakit yang dirasakan. Umam memutuskan untuk pulang saja, tidak lanjut pergi ke Sekolah.
Di sisi lain, teman-teman sekolahnya pada bertanya-tanya.“Ehhh, Umam mana? Tumben belum datang, biasanya dia duluan yang datang,” ucap salah seorang temannya. Merasa bingung karena Umam masih belum muncul kehadirannya di sekolah. Sayangnya tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai Umam mengapa ia belum sampai di Sekolah.
Di perjalanan pulang, Umam hanya bisa berdiam diri sambil merasakan sakit karena luka. Sesekali ia merintih kesakitan karena lukanya yang cukup perih.“Ya Allah, Ya Allah, sudah telat bangun sampai tidak sempat sarapan, macet, terus sekarang? kecelakaan pula. Emang ya hari apes nggak ada di Kalender,” grutu Umam pada dirinya sendiri dengan pasrah.Setelah kejadian tadi, akhirnya Umam membawa motor menjadi lebih pelan dari sebelumya. Mata orang-orang di sepanjang jalan tertuju pada Umam, melihat kondisi Umam yang cukup perihatinkan. Tapi Umam tidak peduli soal itu, ia hanya fokus membawa motor dan pulang ke rumah.Ketika perjalanan pulang ke rumah, perasaan Umam tiba-tiba tidak enak. Motor yang ia kendarai terasa lebih berat dari sebelum ia berangkat. Ia merasa ada yang tidak beres dengan motornya. Umam memilih untuk menepi ke pinggir jalan dan memeriksa ban motornya.“Haduhhhhh, segala bocor lagi ni ban. Ya ampun, ya ampun!” ucap umam dengan kesal ketika mendapati ban motornya yang bocor.“Jauh nggak ya tambal ban dari sini? Mudahan nggak deh,” gumamnya pada diri sendiri.Tanpa pikir panjang, Umam langsung mencari tukang tambal ban terdekat. Satu persatu setiap bangunan ia lihat, matanya melirik sana melirik sini tidak ada tanda-tanda bengkel tambal ban yang buka pada pagi itu.
Ia lanjut kendarai lagi motornya ke depan, sampai akhirnya ia menemukan bengkel tambal ban yang buka. Ia langsung mampir ke bengkel tersebut.“Pak ini ban saya bocor. Apakah bisa ditambal, Pak?”“Oh iya, duduk saja dulu,” jawab tukang tambal ban seraya mempersilahkan Umam duduk.Umam pun duduk di kursi yang telah disediakan disitu. Melihat bapak paruh baya itu yang sedang menambal ban motornya.“Habis jatuh ya, Mas?” tanya Bapak tambal ban ketika melihat keadaan Umam.“Iya pak, jatuh gara-gara hampir tabrak kucing,” jawab Umam singkat.“Oalah. Hati-hati, Mas kalau sedang di jalan,” balas Bapak tambal ban sambil mengerjakan tambalan ban motor Umam.Ketika sedang menambal ban, Bapak tambal ban menemukan sesuatu yang menjadi akibat bocornya pada ban motor Umam.“Oh ini Mas, ada paku di bannya.” Bapak tambal ban menunjukkan paku tersebut kepada Umam.“Oh iya, Pak? Waduh! Lumayan besar ya Pak pakunya,” jawab Umam dengan kaget ketika melihat ukuran pakunya.“Iya Mas. Lumayan besar pakunya, mungkin kena waktu Masnya sedang di perjalanan,” sambung Bapak tambal ban.Bapak itu kemudian melanjutkan menambal ban motor Umam. Tak lama kemudian, selesai juga ban motornya di tambal.“Ini Mas, sudah selesai tambalnya.”“Oh iya, Pak. Jadi berapa?” tanya Umam sambil beranjak dari tempat duduknya.“Lima ribu saja, Mas,” jawab Bapaknya.“Oh iya, Pak. Terima kasih ya, Pak,” ucap Umam seraya menyerahkan uang kertas pecahan lima ribu.“Oke Mas, sama-sama,” balas Bapak tambal ban.Setelah menambal ban, Umam melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Umam langsung memberi tahu Ibundanya bahwa ia tadi kecelakaan di jalan saat menuju ke Sekolah.“Lhoo? Kok bisa jatuh?” tanya Ibunda sambil melihat keadaan Umam.
Umam akhirnya menceritakan bahwa tadi ia jatuh diakibatkan karena kucing yang tiba-tiba menyeberang di hadapannya. “Waduh, kamu mungkin kurang hati-hati. Makanya jangan laju-laju bawa motor, sudah tau habis hujan. Ya sudah sebentar panggil kakek sana minta tolong buat dipijat,” tutur Ibunda memberi nasihat ketika tahu kejadian yang dialami oleh Umam. Umam pun langsung memanggil kakeknya buat minta tolong untuk dipijat. Setelah dipijat, Umam merasa badannya lebih baikan dari sebelumnya.
Setelah itu, ia memutuskan untuk istirahat di kamar dan tidur.Ketika Umam bangun, Umam disamperin oleh Ibundanya. “Kamu jatuh itu karna kepuhunan, pasti kamu belum makan tapai tadi malamkan?” Tanya Ibunda, memastikan bahwa kejadian Umam tadi diakibatkan karena kepuhunan.
Ketika Ibunda bilang seperti itu, Umam baru teringat bahwa ia lupa memakan tapai semalam yang diberikan oleh Ibundanya. Umam langsung keluar kamar bergegas menuju dapur dan memakan tapai yang ada di dalam kulkas.
Setelah memakan tapainya, Umam menanyakan hal ini kepada kakeknya. Apa betul bahwa ia sedang mengalami kepuhunan? Di tanah Kalimantan, ada sebuah kepercayaan lama yang tumbuh bersama napas warganya, diwariskan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak-cucu. Orang-orang menyebutnya kepuhunan.
Sebuah keyakinan yang mengajarkan bahwa keinginan yang sempat singgah, lalu diabaikan, terutama pada makanan atau minuman yang telah ditawarkan bisa berubah menjadi penanda malang. Bukan karena makanan itu sendiri, melainkan karena niat yang ditunda dan dibiarkan mengendap tanpa penyelesaian.
Tak banyak yang mampu menjelaskan asal-usulnya secara pasti. Namun para orang tua, terutama mereka yang telah melewati banyak musim hidup, kerap mengingatkan dengan nada tenang namun tegas.
Nasihat itu tidak disampaikan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat agar manusia tidak meremehkan hal kecil yang telah dihadirkan di hadapannya.Begitulah kakek Umam membenarkan perihal kepuhunan.
Bahwa ia jatuh karena tidak memakan tapai tadi malam.Umam tumbuh di tengah kepercayaan itu. Semenjak kecil, ia akrab mendengarnya; dari obrolan senja di teras rumah, dari kisah-kisah yang kadang diulang, hingga diselipkan dalam percakapan biasa.
Maka ketika peristiwa demi peristiwa mulai menimpanya berturut-turut, seolah ada benang halus yang perlahan ditarik dari masa lalu menuju hari itu. Pada akhirnya, kejadian tersebut dapat membuka pemahaman yang tidak datang secara tiba-tiba.
Bahwa kepuhunan bukan sekadar cerita lama, melainkan pelajaran tentang kehati-hatian, penghargaan, dan bahaya menunda sesuatu yang seharusnya segera ditunaikan. Semenjak kejadian tersebut, Umam jadi paham akan pentingnya memakan makanan yang ditawari, seenggaknya dicicipi jika tidak suka.
Pada kepercayaan masyarakat Kalimantan dan adat Bugis mitos ini dianggap cukup berbahaya, jika tidak memakan atau bahkan mencicipi sekalipun makanan atau minuman yang diberikan, akan terjadi suatu hal yang akan menimpa dirinya. Dan juga untuk tidak menunda-nunda suatu hal apapun itu takutnya lupa.

