STRATEGI DAN TRANSFORMASI GENJOT PRODUKSI MENUJU MIMPI 1 JUTA BAREL PERHARI
Lensa-balikpapan.com/- Sepanjang sejarah hulu migas, industri migas nasional pernah mencapai dua kali puncak produksi. Yang pertama adalah tahun 1977 ketika CPI menerapkan teknologi waterflood di Lapangan Minas sehingga mengantar produksi nasional sekitar 1,65 juta bopd. Puncak kedua terjadi pada 1994 ketika Lapangan Duri menerapkan teknologi steamflood dan mengantar tingkat produksi kembali 1,6 juta bopd. Setelah itu produksi kembali menurun dan pada 2006 menjadi tahun terakhir dengan angka produksi satu juta bopd. Saat ini produksi minyak nasional berada di kisaran 700 ribuan bopd.
Di sisi lain, permintaan terhadap migas terus meningkat seiring peningkatan jumlah populasi dan konsumsi. Akibatnya, gap antara pasokan dan permintaan semakin lebar. Mengingat adanya ketidak cocokan antara permintaan dan pasokan minyak, serta adanya potensi cadangan yang berlimpah dengan potensi cadangan sebesar 783 miliar setara barel minyak (Bboe), industri migas Indonesia berambisi untuk kembali mengubah potensi menjadi hasil, untuk mencapai tingkat produksi terbaik, memastikan keberlanjutan lingkungan, dan mendukung kapabilitas nasional.
Sebagai representasi negara di sektor industri migas yang bertanggung jawab terhadap terpenuhinya kebutuhan migas dalam negeri, seharusnya SKK Migas segera mengambil tindakan dan menyusun strategi kebijakan yang mampu mendongkrak produksi migas nasional. SKK Migas harus memastikan bahwa berbagai strategi dapat berjalan dengan baik, terkontrol, termonitor, dan tetap berada pada jalur yang tepat demi kepentingan nasional yaitu terwujudkan ketahanan energi
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, mengatakan, SKK Migas terus menggenjot transformasi dan inovasi untuk beradaptasi pada perkembangan teknologi, big data, dan industri era 4.0 yang mengubah wajah dan bisnis di Indonesia. Data yang dimililiki saat ini, bauran energi nasional pada 2018 migas sebesar 63.1 persen menjadi 44 persen pada 2050.
Dwi memaparkan bahwa secara persentase, jumlah itu tercatat berkurang, tetapi secara jumlah kebutuhan minyak dan gas terus naik dan pada 2050 kebutuhanya diprediksi meningkat lebih dari dua kali lipat kebutuhan di tahun 2018. Sedangkan Indonesia memiliki sekitar 128 cekungan yang mingandung minyak dan gas, namun baru 20 cekungan yang sudah berproduksi, 35 cekungan eksplorasi, dan 73 cekungan masing menunggu untuk di eksplorasi.
“Untuk mengeksplorasi dan mengembangkan cekungan tersebut, serta merealisasikan visi bersama target produksi minyak 1 juta BOPD di tahun 2030, SKK Migas melakukan transformasi dan inovasi untuk mewujudkan operational excellence, dan menempatkan teknologi sebagai salah satu pilar transformasi hulu migas”ujar Dwi
Ditambahkannya, lembaga SKK Migas melakukan berbagai strategi guna menggenjot produksi migas kedepannya. Strategi yang dicanangkan terdiri atas 5 prioritas, yakni clear vision, organization as center of excellent, on door service policy, commercialization, and digitalization. Untuk digitalization, yaitu mendigitaliasi semua perkerjaan mulai dari monitoring produksi jarak jauh dengan platform keputusan cerdas berbasis data.
“Dengan digitalisasi diharapkan dapat mendukung upaya SKK Migas meningkatkan produksi migas,” terangnya.
Adapun, strategi SKK Migas dalam meningkatkan produksi migas nasional terdiri atas empat fokus, yaitu yang pertama mempertahankan tingkat produksi existing tetap tinggi. Kedua, transformasi sumberdaya ke cadangan. Ketiga mempercepat chemical EOR dan yang terakhir adalah eksplorasi untuk penemuan besar. Dukungan eksternal dan internal diperlukan sehingga transformasi untuk meraih ambisi target satu juta bopd dan 12 Bscfd dapat terlaksana .
Editor : TIM


